Setebal kabut pagi tadi aku pulang ke rumah dengan perasaan yang sama. Tidak ada yang membuatku dapat merasai sedikit saja harapan itu, harapan untuk menemuimu meskipun untuk sekali saja. Sekilas saja. Walaupun tak pernah kau janjikan aku sesuatu untuk kau berikan pun aku tak apa-apa asal dapat melihatmu saja, aku cukup. Namun, apa yang hendak aku katakan ketika harapan saja aku tak punya untuk melihatmu di dermaga sana.
Aku membawa sayur-sayuran dari kebun untuk kujual di pasar sambil menunggu dengan celingak-celinguk ke arah dermaga di mana kau akan berdiri melepas tudung yang menutupi kepalamu kala kau berlayar mencari ikan. Tentu aku tak berhenti berdoa dan berharap agar kau cepat pulang, selamat dan mendapat banyak hasil tangkapan. Lelah, wajah yang pernah aku tangkap ketika kau menepi di dermaga tapi wajah yang selalu aku ingat adalah senyumanmu ketika melihatku melambai-lambai dari tempatku berjualan sayur. Apakah kau tahu jika sekarang ini aku merindu?
Pernah kau bilang padaku untuk tidak menunggu, aku cemberut dan menggerutu. "Bagaimana mungkin aku tidak menunggumu pulang?" kataku yang hanya kau balas dengan senyum itu. Senyum yang memperlihatkan taring yang bagiku lucu. Sepanjang sore di jalan pulang ke rumah kau terus menggodaku yang sedang cemberut. Aku tak menjawab sampai esok pagi dan permintaanmu untuk tidak menunggu pun tak aku penuhi. Karena menjelang maghrib aku berdiri dengan karung bawaanku tempat membawa sayur di dermaga menunggumu pulang. Meskipun kau mendesah kecewa karena aku menunggu, tapi akhirnya kau bangga pada kesetiaanku padamu, kan?
Dulu sekali, kala kau belum melaut kau berjanji untuk memberikan aku hidup yang baik. Kemudian kau melaut dan bagiku telah kau penuhi janjimu meskipun kau masih suka mengeluhkan bahwa janjimu padaku belum terpenuhi. Aku kebingungan bagaimana hendak menjelaskan sampai hari itu kukatakan padamu sambil kusandarkan kepalaku dibahumu "Hidup denganmu bagiku sudah baik, bang. Hidup yang baik seperti apalagi yang aku inginkan?" kemudian kau sandarkan pula kepalamu dikepalaku dan terisak diam. Aku tak bicara lagi, kugenggam saja jemarimu.
Hari yang lainnya, kau pulang shalat subuh dari masjid dan kita mengaji bersama. Setelah itu aku memberitahu kabar gembira padamu bahwa aku dan kau akan menjadi bapak ibu, kau memelukku haru. Aku gembira, kau takut-takut namun gembira juga. Katamu kala itu "Doakan aku agar mendapat rezeki lebih banyak lagi ya, dik". Hatiku dalam warna yang tidak dapat aku gambarkan hari itu, aku begitu bahagia namun tidak banyak yang dapat aku lakukan karena rasa bahagiaku selain berdoa dan menunggu mukjizat-mukjizat lain dari tangan Tuhan.
Akhirnya, dia si dara kecil kita kau beri nama Shaliha. Harapanmu agar ia bawa kita ke syurga-Nya kau lafalkan tiap hari setiap kau hendak berlayar "Shaliha-ku, jadilah shaliha bagi kami berdua dan nantikan kami di pintu syurga ya sayang" sambil kemudian kau kecup kening dan pipinya yang mungil. Aku belum kembali ke pasar, larangan kerasmu yang lainnya melihat kondisiku yang baru melahirkan Shaliha. Tapi, karena kebiasaanku bekerja aku tetap ke kebun kecil di sebelah gubuk kita selagi Shaliha tertidur dan memanen sayur yang siap dijual ke pasar. Hanya saja aku tak ke pasar, tapi menjual kepada penjual yang lainnya untuk didagangkan kembali di sana. Alhamdulillah, aku tetap ingin membantumu, bang. Bebanmu, bebanku juga. Batinku.
Suatu hari aku ketahuan, kau marah. Aku tetap tidak merasa dimarahi karena bijaksananya caramu memarahiku. Hehe, maafkanlah aku bang. Sudah aku haramkan diriku sendiri untuk melihatmu berpeluh sendirian, biar aku temankan. Biar kita berbahagia dengan cara kita yang berbeda ini, untuk apa menjadi seperti orang kebanyakan tetapi menyiksa diri sendiri? Aku bahagia, hidupku baik, hanya karena denganmu.
Shaliha sudah MPASI sekarang, dia sudah mulai berbahasa dan matanya mulai menyiratkan makna. Ayah-ibunya hilang lelah dan letih hanya dengan melihatnya. Setiap waktu mengaji Shaliha kami ajak bersama agar ia terbiasa, lucunya ia paham pula karena setiap bacaaan ayat-Nya dia menyimak diam. Wahaaai anakku, semoga kau tumbuh seperti namamu yang terselip doa-doa kami, orangtuamu.
Menjelang tengah malam di suatu hari lainnya, Shaliha rewel tak seperti biasanya. Ia dalam ayunan namun tak kunjung lelap, si ayah bangun untuk menenangkan namun makin menjadi tangisnya. Berpindah gendongan padaku pun ia tak mau, Shaliha mendekap ayahnya kuat-kuat namun tetap menangis sejadi-jadinya. Sampai akhirnya azan subuh berkumandang kami tak ada yang terlelap tidur.
Subuh itu aku coba menidurkan Shaliha diayunan, sekira dia akan tidur karena dia berjaga semalaman. Kau sedang sarapan di dekat ayunan Shaliha, entah ia sadar ayahnya di dekatnya Shaliha kembali menggeliat di dalam ayunan minta digendong. Aku ingat bagaimana kau buru sarapanmu supaya Shaliha dapat kau gendong berkeliling rumah sebelum berangkat berlayar.
Maka tibalah saat kau berangkat, Shaliha bertambah kuat dekapannya. Aku melihat gejala yang tak biasa menjadi curiga dan gelisah juga, Shaliha tak biasanya seperti ini. Akhirnya, kau lepas paksa dekapan Shaliha dan pergi setelah berdoa dan mengecup kami berdua.
Aku dengar keributan dari arah dermaga, suasana pasar yang terlihat samar dari rumah telah berubah sepi. Semua berkumpul ke arah dermaga sana. Shaliha kami masih tertidur. Entah bagaimana, hatiku berubah suasana dan keinginan berlari dalam kerumunan itu sangat kuat tak tertahan. Sedang aku bertempur dalam hati terdengar seseorang mengucap salam di depan pintu "Wa'alaikumsalam.." jawabku dengan gusar tak tersadar. Seorang teman dari pasar berdiri di depan pintu dengan kaku dengan rona wajah membeku, aku dibuatnya menunggu..
"Nganu, mbak. Ng..anuu."
"Ada apa?" aku tak sabar
"Ng..boat-nya suami mbak dan teman-temannya nganuu mbak.."
"Apa? Kenapa boat suamiku?" Aku bertambah gusar, terguncang.
"Hi..hil..lang mbak, gitu kata mereka yang pulang layar. Aku di..disuruh sampein kemari"
Dunia berhenti berputar. Aku mematung tak menunjukkan daya, lamat-lamat kudengar suara temanku mengatakan agar aku tabah dan sabar, aku melihat orang berdatangan ke rumahku, gaduh. Aku tak mengerti, aku berdiri dengan airmata yang keluar dengan deras dalam diam. Aku masih mencerna, aku belum mau percaya, aku mau ke dermaga.
Lalu, dengan tenang kuambil Shaliha dari ayunan dan kugendong dengan sayang. Kuterobos lautan manusia di halaman rumahku yang terus gaduh berkata-kata, ada yang memegang tanganku melarang pergi tapi kutepis karena aku ingin menuggu suamiku pulang. Suamiku akan pulang, dia ingin aku menunggunya di dermaga sana bersama Shaliha.
Kekaburan dan kehampaan yang aku temukan, teman-teman yang satu boat dengannya sudah ada yang pulang. Ada yang selamat ada yang tidak, aku ingin bertanya tapi rasanya aku sudah tersedak terlebih dahulu sebelum kata keluar dari lisanku. Aku meraba di dermaga, mereka terus menerus menganjurkan agar aku pulang saja karena hari sudah malam. 'Bagaimana mungkin aku tidak menunggumu pulang?' batinku menjerit-jerit sakit sedang Shaliha belum terjaga dan aku tak akan membuatnya terjaga.
Tangisanku tanpa jeda, aku masih di dermaga bang. Abang dimana? Aku kuat menunggu sampai abang pulang, Shaliha tidak akan kedinginan karena aku yang menjaminkannya pelukan. Teman-teman di dermaga datang menemaniku, kali ini tak ada yang menyuruhku pulang dan tak pula mereka ajak aku bicara. Mereka paham keadaanku, hanya abang yang aku ingin lihat. Tapi, dimana?
Tengah malam sudah kujelang, aku masih di dermaga bang. Shaliha sudah dibawa pulang oleh tetangga kita, besok aku pesan dia dibawa kembali untuk menanti abang. Tidak ada yang mencari lagi memang, karena sebagian dari mereka sudah ke kota mencari bantuan. Abang..suamiku sayang, ayolah pulang!
Subuh pun datang yang kujelang di mushola dekat dermaga, doaku tak pernah putus untukmu bang. Tapi kali ini aku merasa pupus karena belum melihatmu sejak semalam. Lautan itu terlihat menjadi begitu luas terhampar di hadapanku, ia bagai pemisah yang kejam bagiku saat ini meski abang melihat ia sebagai peluang rezeki saban hari.
Mereka kembali dengan bantuan dari kota, aku minta ikut serta agar aku dapat lihat ada apa di tengah samudera sana sehingga suamiku ditelannya. Permintaanku ditolak, aku tak boleh ikut katanya. Jadi, kugendong saja Shaliha sambil terus berdoa dan mengumpulkan harapan.
----------
Hari sudah kulewati sampai berbulan sudah harapan itu menyatu dengan diriku. Tapi, aku belum melihatmu. Kata mereka aku tak akan melihatmu lagi, aku bilang aku 'belum' bukan tak akan melihatmu lagi. Meskipun aku harus menelan kepahitan setiap harinya, tak menjadi alasan bagiku untuk tidak menantimu di dermaga sana. Bagaimana mungkin aku tidak menunggumu pulang, bang?
Kini, harapan itu terkikis perlahan-lahan. Aku menjadi tak punya lagi walau hanya sekedar harapan untuk berjumpa denganmu tapi entah bagaimana rasa rindu yang terus melonjak-lonjak gembira membawaku ke dermaga itu. Tempat aku melepas rinduku padamu, tempat kita bertemu. Kupikir biarlah, biarlah Shaliha melihat betapa cinta aku padamu, betapa kau ayah yang luarbiasa yang sepatutnya pula ia nanti bersamaku, betapa harapan kami yang kian terkikis ini harus dikumpul lagi demi rasa rindu.
Beberapa tahun kemudian...
Lihatlah bang, lihat betapa Shaliha begitu sesuai dengan namanya. Dia pandai mengaji sepertimu dan kerudungnya lebih lebar daripada aku. Amalan sunnah andalannya sama sepertimu, shalat malam. Dia berharap dapat menemuimu di sela isaknya pada Tuhan. Kami masih bertahan, iya bertahan sambil menengadahkan tangan dan setiap sore berdiri di dermaga penantian.
T A M A T





0 komentar:
Posting Komentar